Arsip Digital Barik karya beberapa dosen dari multi disiplin mendapatkan apresiasi dari media massa yang dimuat secara online dalam judul “Peduli Wastra Nusantara, Akademisi Universitas Ciputra Bikin Arsip Digital”. Dalam mengumpulkan data, beberapa dosen tersebut mendapatkan batuan dari mahasiswa program. studi Fashion Design Business Universitas Ciputra Surabaya.

Michael Nathaniel Kurniawan (Dosen Desain Komunikasi Visual UC), Janet Rine Teowarang (Dosen Fashion and Design Business UC), dan Stephanus Eko Wahyudi (Dosen Informatika UC) menggandeng Sandra Sardjono dari Tracing Patterns Foundation dari California -Amerika Serikat dalam mengembangkan database batik yang dipublikasikan melalui website ‘Indonesian Textile Stories and Legends’.

Tampilan Arsip Digital Batik dan beberapa halaman situs web “The Centre for Creative Heritage Studies Universitas Ciputra” dan “Indonesian Textile Stories and Legends”

Indonesia kaya akan budaya warisan leluhur, salah satunya adalah wastra atau kain tradisional. Hampir setiap daerah memiliki wastra yang sarat makna budaya. Tak ingin wastra Nusantara hanya menjadi cerita lalu, sejumlah akademisi di Surabaya tergerak untuk mendokumentasikan dalam bentuk digital.

Mereka adalah Michael Nathaniel Kurniawan, Janet Rine Teowarang, dan Stephanus Eko Wahyudi. Menggandeng Sandra Sardjono, Tracing Patterns Foundation dari California, Amerika Serikat, ketiganya yang merupakan dosen di Universitas Ciputra (UC) Surabaya ini membuat website ‘Indonesian Textile Stories and Legends.’

“Program ini bertujuan untuk mendigitalkan sebanyak mungkin warisan kebudayaan wastra nusantara, baik artefak masa lalu maupun produk budaya kontemporer, dengan fokus pada upaya pendokumentasian warisan budaya non-bendawi yang terkandung dalam wastra nusantara,” jelas Michael Nathaniel Kurniawan, dari program Studi Visual Communication Design UC Surabaya, kepada Basra, Kamis (6/5).
Diakui Michael di Indonesia sudah ada website yang membahas tentang wastra Nusantara namun secara spesifik saja.

“Ada sih website tentang wastra nusantara tapi hanya tertentu saja ya misalnya membahas tentang batik dari daerah tertentu. Nah, yang ingin kami tampilkan adalah seluruh wastra lengkap dengan historisnya termasuk pengrajinnya,” papar Michael.
Hal tersebut dilakukan, lanjut Michael, guna melestarikan, mengedukasi, dan menginspirasi para pelaku industri kreatif dalam menciptakan dan mengembangkan warisan budaya masa depan Indonesia yang berkelanjutan.

Dikatakan Michael, arsip digital ini tersedia bagi masyarakat umum, terutama bagi para pendidik seni dan desain sebagai bahan referensi untuk mengajar dan melakukan penelitian-penelitan lain terkait industri kreatif berbasis budaya wastra nusantara.

“Kami berharap penelitian-penelitian yang dihasilkan nantinya dapat menjadi bahan kajian bagi pemerintah dalam membuat kebijakan yang sesuai guna mendukung pengembangan kebudayaan wastra Indonesia yang berkelanjutan,” imbuhnya.

Melalui website ini, pihaknya ingin pula mengajak para pencipta, kolektor, dan pemerhati warisan kebudayaan wastra Indonesia dari seluruh penjuru nusantara untuk dapat turut membagikan kisah di balik karya mereka. Sehingga dapat turut serta melestarikan warisan budaya non-bendawi dan bendawi bangsa Indonesia.
“Ini dapat menjadi sebuah upaya kita bersama untuk memanusiakan manusia Indonesia serta menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia melalui teknologi,” tukasnya.

Sejak diluncurkan pada akhir April 2021 lalu, sudah ada 10 kisah tentang wastra nusantara yang dibagikan dalam website ini. Di antaranya kain sembagi dari pulau Sumatera.

Diceritakan Michael jika kain sembagi merupakan kain batik yang banyak diperdagangkan di Sumatera, terutama di daerah Jambi dan Palembang dan sekitarnya di sekitar awal abad ke-19. Berbeda dengan kain batik dari Jawa yang pada umumnya dibatik pada kedua sisi kain, kain batik Sembagi hanya dibatik pada satu sisi kain saja.

Pada perkembangannya, kain batik sembagi juga kemudian diproduksi di Lasem dan Cirebon untuk dijual di Sumatera dan Jawa. Batik Sembagi sebenarnya terinspirasi dari kain Chintz dari India yang masuk ke Indonesia pada era Kerajaan Sriwijaya di abad ke-7. Salah satu ciri khas dari desain kain batik sembagi adalah penggunaan warna merah dan biru yang dalam bahasa tradisional disebut Bang-Biron.

“Kami akan terus menambahkan koleksi terbaru di halaman website ini. Target kami hingga akhir tahun sudah ada 60 kisah yang dibagikan terkait wastra nusantara,” pungkasnya.

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)

Sumber media: Kumparan https://kumparan.com/beritaanaksurabaya/peduli-wastra-nusantara-akademisi-universitas-ciputra-bikin-arsip-digital-1vgxvbGoimt

Indonesian Textile Legends and Stories