Hai, perkenalkan nama saya Wahyu Herdianto. Saya adalah mahasiswa program studi Informatika (IMT) Universitas Ciputra angkatan 2015. Saya ingin membagikan pengalaman berharga saya selama mengikuti program students exchange di salah satu kampus partner Universitas Ciputra yaitu Dongseo University yang terletak di kota Busan, Korea Selatan.

Opening Ceremony DSU Fall Semester 2018

Opening Ceremony DSU Fall Semester 2018

Awal mula…

Sejak masih SMA saya memang sudah mempunyai cita-cita untuk melanjutkan sekolah di luar negeri, entah untuk S1, S2, atau hanya pertukaran pelajar. Oleh karena itu saya sangat senang saat mengetahui UC juga mempunyai program tersebut dengan kampus-kampus di luar negeri. Saya mengetahui program tersebut sejak awal memasuki perkuliahan, namun tidak tahu bagaimana proses, pengajuan, dan lain-lainnya hingga 3 tahun berkuliah disini. Bagi mahasiswa UC yang ingin mengikuti program ini saya sarankan untuk aktif bertanya dengan dosen atau kantor bagian internasional agar mendapatkan informasi yang up-to-date. Begitu banyak kesempatan untuk mengikuti short-course, summer course, students exhange, maupun berbagai international exposure dan experience seperti ini di Universitas Ciputra.

Proses pendaftaran

Berdasarkan pengalaman saya, pendaftaran dibuka pada bulan Mei untuk program pertukaran Fall Season (September – Desember) dengan beasiswa penuh untuk tuition fee dan dormitory selama satu semester. Hal pertama yang saya lakukan adalah pengumpulan formulir yang sudah disediakan oleh pihak kampus beserta surat kesehatan dari rumah sakit terdaftar dan Personal Statement dalam bahasa Inggris. Menurut saya, Personal Statement adalah yang paling penting dan berpengaruh pada seleksi karena dari lembaran itulah pihak penerima dapat menilai apa motivasi dan tujuan kalian dalam mengikuti exchange program ini, jadi saya memikirkan matang-matang dan ditulis sebaik mungkin. Kemudian proses seleksi dilakukan oleh Dongseo yang membutuhkan waktu kurang lebih 2 minggu. Untuk mengikuti program ini tidak dibutuhkan nilai TOEFL atau IELTS. Namun meskipun tidak ditanyakan nilai bahasa Inggris kita, setidaknya kita harus sadar diri ya karena nantinya perkuliahan disampaikan dalam bahasa inggris, jadi tetap harus bisa minimal listening dan reading, hehehe…

Pada kesempatan ini saya beruntung terpilih bersama salah satu mahasiswa VCD (Visual Communication Design) yang sama-sama mahasiswa semester 7.

Menginjak negeri Korea

Begitu sampai di Gimhae Airport, kami sudah dijemput dengan mahasiswa Dongseo dan kemudian bersama naik bus kampus sampai ke dormitory kami masing-masing. Satu hal yang tidak saya ketahui adalah ternyata Dongseo sangat-sangat-sangat luas dan berada di kaki bukit sehingga untuk menuju ke kelas, tempat makan, perpustakaan, dan bus stop rasanya seperti naik turun gunung atau hiking hahaha… Bahkan uniknya lagi, setiap gedung di kampus ini (yang berjumlah  29 gedung) memiliki lantai lobby yang berbeda-beda. Contohnya dorm yang saya tempati lobby-nya ada yang terletak di lantai 7, ada yang lantai 4, lantai B1, dan lantai 2. Hal tersebut dikarenakan gedung-gedung di Dongseo tidak berada pada ketinggian yang sama, jadi agak membingungkan saat pertama kali datang 😀

Ada banyak hal yang sangat saya sukai dari Korea, namun yang sangat berkesan bagi saya adalah terutama mengenai sistem transportasinya. Transportasi di Korea benar-benar nyaman, tepat waktu dan juga dapat menjangkau hampir semua titik sehingga sangat mudah untuk bepergian. Meskipun Dongseo terletak di atas bukit, pemerintah benar-benar memperhatikan segalanya untuk mempermudah akses transportasi. Pada student plaza kampus ini terdapat bus stop yang khusus beroperasi untuk naik dan turun ke jalan utama untuk berpindah ke metro (MRT) atau bus utama. Bus tersebut tidak sama dengan bus besar yang beroperasi di jalan utama, bus ini berukuran lebih kecil dan biasanya berwarna hijau/orange.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti makan, perlengkapan dan peralatan untuk kuliah dan kamar, semuanya bisa didapatkan dengan mudah. Adanya toko Daiso benar-benar memudahkan karena hampir semua kebutuhan dapat saya temukan disana, mulai dari baju, pajangan, skincare, alat tulis, snack, peralatan makan, kebutuhan dapur, kebutuhan toilet, dll. Sedangkan untuk menemukan tempat makan juga sangat mudah. Terdapat banyak pilihan makanan mulai dari yang paling murah hingga Korean BBQ all you can eat. Jika ingin yang lebih praktis dan cepat, saya terkadang membeli makanan di cafeteria yang berada di dorm. Pengalaman membeli makanan di cafeteria ini cukup unik (bagi saya) karena semuanya dilakukan secara mandiri dan otomatis.

Suasana cafeteria dormitory. Mahasiswa memesan menggunakan mesin lalu mengambil sendiri makanan, side dish, dan minuman. Kemudian memisahkan peralatan makanan kotor pada tempatnya setelah selesai

Suasana cafeteria dormitory. Mahasiswa memesan menggunakan mesin lalu mengambil sendiri makanan, side dish, dan minuman. Kemudian memisahkan peralatan makanan kotor pada tempatnya setelah selesai

Sistem Akademik di Dongseo

Hampir sama dengan kampus-kampus di Indonesia, proses KRS dilakukan secara online. Pada saat melakukan KRS, mahasiswa dapat melihat informasi detail mengenai mata kuliah tersebut mulai dari silabus dan rincian kegiatan yang akan dilakukan pada setiap pertemuan mulai minggu pertama hingga UAS. Selain itu terdapat minggu percobaan di awal perkuliahan (minggu pertama) dimana mahasiswa dapat dengan bebas memasuki kelas apa saja yang diinginkan untuk merasakan dan mengetahui lebih lanjut tentang mata kuliah tersebut. Setelah itu mahasiswa dapat menentukan untuk melanjutkan mendaftar kelas tersebut atau tidak. Pada proses ini saya melakukan kesalahan yaitu melewatkan tanggal deadline untuk mengubah KRS sehingga kelas yang tidak ingin saya ikuti dengan terpaksa tidak dapat diubah dan tetap terdaftar pada KRS saya. Selain itu saya juga mengambil kelas online, dimana mahasiswa tiap minggunya belajar melalui video di website lalu mengisi quiz atau melakukan diskusi pada website tersebut.

Kelas-kelas yang saya ambil adalah kelas internasional yang menggunakan Bahasa Inggris. Dari 5 kelas yang saya ambil (selain kelas bahasa Korea), saya merupakan satu-satunya mahasiswa dari Indonesia dan didominasi oleh mahasiswa dari Uzbekistan. Kelas yang saya ikuti karena merupakan kelas international, maka perkuliahan diajarkan dalam bahasa Inggris. Sesekali profesor meminta mahasiswa yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan sudah menguasai materi diminta untuk membantu menerangkan kepada mahasiswa lain mengajar di kelas, termasuk saya hehe 😀 Professor-professor disini sangat ramah dan santai namun tetap professional. Pernah suatu waktu kami sekelas diajak untuk datang ke suatu event tahunan yang sangat besar tentang game, dimana kami bisa mencoba, mengikuti lomba, dan membeli merchandise dari game-game lokal sampai internasional (PUBG, Fortnite, dll.).

Kelas Database dengan professor Park Su Hyun

Kelas Database dengan professor Park Su Hyun

 

Kelas Advanced Programming dengan professor Lee Young Sil pada event Game Star 2018

Kelas Advanced Programming dengan professor Lee Young Sil pada event Game Star 2018

Selama satu semester saya berkuliah di Dongseo, saya sangat salut dengan professor-professornya yang tidak pernah sekalipun terlambat masuk kelas. Jika terdapat pembatalan kelas, profesor selalu memberikan info jauh-jauh hari sehingga tidak pernah ada kelas dibatalkan secara mendadak. Sedangkan untuk kelas pengganti, saya sempat bingung karena ada beberapa kali kelas libur dikarenakan tanggal merah namun tidak ada informasi apapun tentang kelas pengganti. Ternyata semua kelas pengganti dilakukan pada minggu sebelum UAS, sehingga tidak ada minggu tenang dan tidak ada kelas pengganti selama aktif perkuliahan. Kelas-kelas pengganti tersebut sudah terjadwal secara sistem dan tidak mungkin ada jadwal yang bertabrakan. Selain itu, kampus di Korea menerapkan sistem break selama 10 menit setiap 50 menit perkuliahan yang dapat digunakan mahasiswa untuk ke toilet, me-refill minum, atau ngobrol-ngobrol diluar kelas sehingga tidak bosan dan lelah selama perkuliahan.

Benefits

Saya sangat beruntung dapat mengikuti exchange program ini. Banyak hal yang saya dapatkan : teman baru, mempelajari budaya baru, memperluas wawasan, dan hiburan tentunya hehehe…

Seperti yang sudah kita semua tahu, dengan mengikuti exchange program sudah pasti kita mendapatkan teman baru. Dongseo memiliki komunitas mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang cukup kuat dan solid. Mereka sering mengadakan acara bersama seperti piknik, jalan-jalan keluar kota, atau sekedar makan bersama. Selain itu saya juga mendapatkan banyak teman dari Meksiko, Pakistan, Vietnam, Uzbekistan, dan China. Sebagai sesama exchange students, kami sering bepergian bersama untuk have fun hingga membicarakan hal-hal yang serius seperti global issues dan saling sharing cerita dari negara masing-masing. Saya juga mendapatkan teman Korea dari Buddy Program dan English-Korean club yang saya ikuti.

Buddy program merupakan sebuah program untuk mahasiswa-mahasiswa asing untuk dapat memiliki teman dari Korea dan mengenal budaya Korea lebih lagi. Melalui program ini saya kenal dengan salah satu mahasiswa Dongseo dari Korea bernama Jun. Kegiatan utama dari program ini mostly adalah jalan-jalan, mengenalkan budaya Korea, pergi ke tempat-tempat wisata, mengenalkan makanan khas, dll. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan berdua dengan buddy atau ber-grup dengan buddy dan mahasiswa asing lainnya. Sedangkan English-Korean club adalah club untuk belajar bahasa Korea diluar kelas. Disini setiap mahasiswa mendapatkan 1 mentor yang juga adalah mahasiswa untuk belajar bahasa Korea seminggu sekali.

Foto bersama dengan mahasiswa dari Korea, Pakistan, Meksiko, Vietnam, dan Jepang

Foto bersama dengan mahasiswa dari Korea, Pakistan, Meksiko, Vietnam, dan Jepang

Dengan tinggal di Korea selama 4 bulan, saya mendapatkan banyak pengalaman yang tidak bisa saya dapatkan di Indonesia. Wawasan tersebut bukan hanya dalam bidang edukasi, namun membuat saya mengerti bagaimana cara berpikir, kebiasaan-kebiasaan, dan budaya di negara lain. Culture shock merupakan bagian yang wajar sekaligus menyenangkan bagi saya. Contohnya, jika di Singapore kita harus berdiri di sebelah kiri saat di eskalator, justru Korea mengharuskan kita berdiri di sebelah kanan, berbeda dengan Indonesia yang tidak memiliki aturan hahaha 😀

Oryukdo Skywalk (@fxwh_)

Oryukdo Skywalk (@fxwh_)

Selain belajar tentu saja saya memanfaatkan waktu sebaik mungkin di Korea dengan mencoba entertainment yang ada. Yang paling sering saya lakukan adalah karaoke. Karena konsep karaoke di Indonesia berbeda dengan Korea, dimana karaoke jauh lebih murah dan menjamur dimana-mana. Karaoke di Korea seringkali digunakan untuk latihan menyanyi (individu) sehingga bukan hal yang aneh untuk pergi ke karaoke sendiri. Namun ada juga karaoke yang lebih cocok digunakan untuk bersenang-senang dengan teman tetapi lebih mahal. Selain itu terdapat outdoor shopping district dan tempat-tempat wisata alam yang bisa dikunjungi. Saya seringkali pergi ke tempat-tempat tersebut sendirian hanya untuk menikmati suasana ‘Korea’ dan hunting foto karena banyak hal menarik yang ingin saya share kepada teman-teman dan keluarga.

Gukje Market, Nampo-dong (@fxwh_)

Gukje Market, Nampo-dong (@fxwh_)

 

Keuntungan berkuliah di Korea lainnya adalah adanya festival yang diadakan setiap tahun oleh kampus-kampus dengan bintang tamu idol groups seperti Blackpink, BTS, Twice, dll. Dongseo sendiri sudah pernah mengundang Blackpink pada tahun 2016, namun pada waktu saya disana bintang tamu yang diundang adalah Bolbbagan4 dan Simon Dominic.

DSU Minseok Festival 2018 – Bolbbalgan4 & Simon Dominic

DSU Minseok Festival 2018 – Bolbbalgan4 & Simon Dominic

Tidak hanya itu, setiap tahunnya Busan memiliki festival yang menghadirkan banyak idol groups. Hebatnya lagi, Dongseo memberikan beberapa tiket gratis untuk mahasiswanya. Pada Busan Asia One Festival 2018 saya berkesempatan melihat konser dari grup NCT, Red Velvet, Astro, dan masih banyak lagi. Selain itu terdapat juga Busan Firework Festival yang diadakan setahun sekali pada bulan Oktober di pantai Gwangali dimana hampir semua penduduk Busan datang dan memenuhi pantai karena event tersebut sayang untuk dilewatkan.

Busan Firework Festival 2018

Busan Firework Festival 2018

 

Cons…

Jika ditanya apa nggak enaknya kuliah di Korea, saya hanya akan menjawab “mahal”. Meskipun ada beberapa hal lainnya seperti communication barrier, menurut saya itu hanyalah culture shock yang dapat diatasi dan bukan merupakan hal negatif. Justru hal tersebut merupakan “paksaan” agar saya bisa lebih cepat bisa berbahasa Korea. Karena tidak banyak warga Korea yang bisa bahasa Inggris, bahkan meskipun saya bertanya dalam bahasa Inggris dan mengatakan tidak bisa berbahasa Korea, mereka tetap membalas perkataan saya dengan bahasa Korea. Namun dengan pengalaman seperti itu saya dapat lebih merasakan bagaimana budaya Korea, dibandingkan jika semuanya lancar-lancar saja. Sedangkan untuk materi yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Jika dibandingkan dengan UC, Dongseo lebih teoritis dibandingkan UC yang penuh dengan project tiap semesternya.

FX Wahyu Herdianto

FX Wahyu Herdianto di Busan

Pengalaman mengikuti exchange program di Dongseo University  selama satu semester adalah pengalaman yang paling berharga, menarik, dan tidak akan bisa saya lupakan. Masih ada banyak hal yang ingin saya ceritakan melalui artikel ini namun sepertinya sudah terlalu panjang hehehe… Jika ada hal lain yang ingin ditanyakan dapat tanyakan langsung aja ke saya di instagram @fxwh_

Semoga artikel ini dapat memberi gambaran apa yang saya lakukan selama exchange program di Korea dan dapat memotivasi kalian ya! Thank you sudah mau membaca artikel ini~

Wahyu Herdianto

IMT UC ‘15