Hai, Perkenalkan nama saya Cosmas Sakristiandio. Saya biasa dipanggil Dio dan saat ini saya masih menjadi seorang Mahasiswa di Universitas Ciputra Surabaya. Selama berada di UC saya mendapatkan banyak kesempatan untuk membangun minat dan bakat sesuai passion saya. Ini tidak mudah, karena setiap semester, saya merasakan perubahan passion dari waktu ke waktu seiring dengan jumlah pembelajaran soft skill yang saya latih kepada diri saya.

Business Model

Semua yang saya dapatkan hari ini berawal dari hal kecil saat membuat Bisnis Model pada salah satu mata kuliah di UC. Dan saya menyukai hal tersebut. Sehingga tahun 2016 awal saya mendengar istilah yang sedang tren saat itu yaitu “Startup”. Startup atau Perusahaan rintisan membuat saya merasakan apa yang saya lakukan menjadi begitu menyenangkan dan membuat saya bersemangat untuk bangun di pagi hari serta bekerja dengan lebih disiplin. Dengan menyertakan Tuhan, saya selalu diberikan kesempatan untuk memulai dengan jauh lebih baik dari hari ke hari. Awal mula saya membangun perusahaan rintisan adalah berasal dari sebuah program pemerintah yang dikenal dengan sebutan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Disana saya membangun Startup pertama saya di bidang kontruksi pembangunan yang saya sebut dengan “Bedah-Rumah.com”. Startup pertama ini tidak berjalan lancar dan hanya bertahan selama 6 bulan karena masalah konflik internal di dalam tim saya. Tetapi saya belajar bagaimana cara menjadi seorang leader di dalam sebuah tim. Itu semua juga membentuk saya lebih kuat lagi.

Setelah pengalaman tersebut, saya mendapatkan kesempatan di awal tahun 2017 untuk mengikuti “Startup Weekend Jakarta” yang sepenuhnya di support oleh Universitas Ciputra Surabaya. Di sanalah saya berkenalan dengan begitu banyak orang, termasuk seorang founder Co-Working Space yang sampai saat ini menjadi rekan bisnis saya. Di sanalah startup kedua saya dibentuk. Saya membangun startup “Prooqie.com” [1] dimana startup tersebut bertujuan untuk membentuk mindset yang kuat mengenai pengenalan karir di perusahaan bagi siswa-siswi tamatan SMA. Kali ini, Startup saya hampir saja berhasil. Namun Prooqie pun harus ditutup karena masalah mindset dari anggota kami yang belum sempurna. Saya merasakan membangun mindset itu sangatlah penting. Kesalahan mindset dalam membangun perusahaan rintisan membuat perusahaan tersebut harus ditutup karena ketidak sesuaian Visi dan Misi.

Tidak bosan mencoba. Berselang 1 bulan, saya mencoba mendirikan sesuatu yang berbeda. Saat ini booming tentang pertenakan dan perikanan. Untuk itu saya membangun Startup lain, yang kali ini diberi nama “NIKA”. Nika adalah sebuah chatbot yang akan membantu para Petani untuk mengirimkan hasil panennya kepada pembeli secara real time. Selama 2 bulan berjalan, perkembangan NIKA sangat baik. Namun pada bulan ke-3, ternyata saya dan tim sangat kelelahan, termasuk masalah di pendanaan mengingat begitu banyak modal yang kami gelontorkan untuk mengedukasi para petani.

Breakthrough Moment & Network Building

Setelah memikirkan matang-matang. Saya pun kembali bertemu dengan Aryo. Seorang founder Co-Working Space yang menjadi teman saya saat acara Startup Weekend Jakarta 2017 yang lalu. Saya pun kembali ke Jakarta dan mengikuti beberapa kelas pengembangan diri soal investasi, penanaman modal dan pengelolaan sumber daya yang baik. Di kelas itulah saya bertemu dengan seseorang yang ternyata adalah Manager CSR dari PT. Telekomunikasi Indonesia. Saya berbincang- bincang dan beliau menawarkan sebuah solusi untuk masalah saya. Saya diarahkan untuk mendaftarkan diri meminta bantuan modal di Telkomsel Surabaya. Dari perbincangan itulah saya akhirnya pulang dengan berbekal informasi yang mengubah diri saya saat ini.

Kantor Telkomsel Surabaya berada di Jalan Basuki Rahmat yang menempati BRI Tower. Setelah berkunjung kesana saya bertemu dengan hampir seluruh koneksi dari pihak CSR Telkomsel. Telkomsel pun menawarkan saya untuk mengikuti kompetisi. Jika saya gagal di dua kompetisi yang mereka tawarkan, baru saya akan diberikan dana secara investasi. Di sinilah saya mengenal dua program CSR terbesar milik Telkomsel, yaitu Telkomsel Indonesia NextDev dan Telkomsel Indonesia Next. Hampir mirip, tetapi tidak sama. Indonesia NextDev merupakan program CSR khusus untuk perjalanan startup. Program ini di tujukan khusus untuk melakukan pembinaan pada startup tertentu yang diseleksi terlebih dahulu. Sedangkan IndonesiaNext merupakan program CSR khusus untuk perjalanan startup yang di fokuskan untuk pengembangan diri bagi para founder nya bukan pengembangan bisnisnya. Singkat cerita saya mengikuti Indonesia NextDev karena saya ingin fokus dahulu pada NIKA, Startup saya sebelumnya.

Setelah mendaftar dan diseleksi. Tahap pertama mulai dari seleksi berkas hingga Pitching dengan Pitch Deck yang sudah terverifikasi. Saya berhasil masuk ke dalam 20 besar Startup Regional Surabaya. Dari 20 startup tersebut akan diambil 5 startup terbaik untuk masuk ke Jakarta. Dan sekali lagi Tuhan ingin saya belajar dahulu untuk merasakan kegagalan sebelum sukses. Saya belum berhasil saat saya akhirnya harus menjawab sebuah pertanyaan “Bagaimana kondisi keuangan startup kamu saat ini ?”. Tentu itu sebuah hal yang harus dijawab secara jujur. Saya harus jujur bahwa saya mengikuti kompetisi ini dengan motif ‘mencari dana’ sehingga capital yang saya miliki belum mencukupi untuk hal tersebut. Saya akhirnya tidak masuk kedalam 5 besar startup. Namun rekan saya, Ivan Sinarso berhasil masuk ke Tahap 5 besar nasional. Ivan adalah mahasiswa IBM Universitas Ciputra Surabaya dan juga berhasil menjadi juara kategori health dalam ajang Indonesia NextDev 2017 [2]. Saya pada akhirnya punya kesempatan untuk ikut belajar dengan Cek Mata di Tahun berikutnya. Oh iya, Pada akhirnya NIKA saat ini digunakan oleh sebuah startup lokal didaerah Jombang oleh rekan saya. Hanya sebagai aplikasi lokal untuk petani setempat di Jombang.

My Proud Achievements

Oke. Setelah itu semua, saya secara jujur tidak tau mau melakukan apa. Saya mau mencoba Indonesia Next tetapi fokus program tersebut adalah pada individu pribadi, bukan startup yang akan saya bangun. Saya tidak terlalu tertarik. Tapi entah mengapa Tuhan seperti memberikan saya pencerahan bahwa startup yang sukses dibangun harus dengan founder yang berkualitas juga. Akhirnya saya mengikuti program tersebut. Berbeda dengan NextDev, program ini adalah program CSR terpanjang yang pernah saya ikuti. Ada 7 Seleksi sampai ke seleksi Nasional.

Indonesia Next 2017 Winner - Cosmas Sakristiandio

Indonesia Next 2017 Winner – Cosmas Sakristiandio

Saya masih ingat saat seleksi pertama, saya bisa lulus dengan mudah karena saya memiliki basic bisnis yang baik yang harus bersaing dengan anak teknik yang bisa dibilang belum memiliki basic bisnis sama sekali. Seleksi kedua adalah presentasi. Saya lulus dengan sangat baik karena sudah terlatih dan terbiasa melakukan presentasi yang luar biasa. Seleksi ketiga, saya dihadapkan pada sebuah sertifikasi yang lumayan sulit. Saya harus mengerjakan sertifikasi Microsoft Word dan bersaing secara Teknikal. Di luar dugaan saya meraih skor maksimal 1000/1000 dan mendapat predikat pertama dalam Tes tersebut. Kualifikasi keempat merupakan kualifikasi regional. Dimana semua peserta se Jawa timur dengan jumlah 20 peserta memberikan presentasi secara Bisnis dan Teknik dihadapan General Manager dari Telkomsel Indonesia di Surabaya. Para GM tersebut sangatlah luar biasa karena mereka  telah lebih dari 25 Tahun berada di Telkomsel dengan kemampuan terbaik. Seleksi tersebut melibatkan presentasi, teknikal, bisnis model dan tentunya karakter founder. Dari 20 Peserta tersebut hanya diambil 5 orang. Dan saya lolos termasuk dari 5 orang diantaranya. Seleksi kelima merupakan seleksi akhir dari rangkaian program ini, dimana akan ada 30 peserta dari 6 Provinsi berbeda, dimana masing-masing ada 5 orang per Provinsi di Seluruh Indonesia. Mulai dari Sumatera, Jakarta, Jogyakarta, Jawa Barat,Jawa Timur, dan terakhir Sulawesi. Seluruh rangkaian IndonesiaNext dapat dilihat lengkap di website IndonesiaNext [3].

Kali ini saya benar-benar mendapatkan rewards yang sangat baik. Saya dilatih oleh begitu banyak professional yang baik dan ahli dibidangnya mulai dari GM dari General Motors Indonesia, Komunikasi Skill dari Presenter Talk Inc, Erwin Parengkuan sampai pembelajaran Bahasa Inggris dari EMTalk. Semua itu untuk mempersiapkan saya pada seleksi Tambahan, yaitu seleksi ke enam untuk memilih Best Talent Nasional.

Indonesia Next 2017 Winner - Cosmas Sakristiandio

Indonesia Next 2017 Winner – Cosmas Sakristiandio

Singkat cerita, saya akhirnya tampil dalam sebuah presentasi dengan juri-juri internasional di kantor Telkomsel Indonesia Jakarta, Setelah mendapatkan banyak pelatihan saya pun meraih Juara 10 Besar Terbaik dalam program IndonesiaNext 2017. Dimana saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di San Fransisco, Amerika Serikat (Karena Policy terkait, US Journey tidak dapat saya ceritakan).

Cosmas Sakristiandio - London

Cosmas Sakristiandio – London

Karena prestasi yang baik di Tahun 2017 yang lalu, saya kembali di Undang oleh Telkomsel untuk program sertifikasi yang berbeda. Kali ini adalah sertifikasi Microsoft Office Power Point dan Excel serta beberapa sertifikasi komunikasi skill lainnya. Di tempat ini lah saya mendapatkan kesempatan untuk belajar berbagai macam bisnis model dan bisnis mapping di UK, London. Informasi lainnya, bahwa perjalanan ke US meruapakan perjalanan untuk mempelajari Budaya perusahaan serta Teknikal produk dan perjalanan ke London merupakan perjalanan untuk menggali talent dengan berbagai macam kegiatan Bisnis Model dan Bisnis mapping.

Saya mengunjungi London pada 25 Desember 2018 sampai 6 Januari 2019. Di London saya belajar begitu banyak hal yang bisa saya ceritakan lewat foto-foto yang saya sertakan diartikel ini. Saya belajar bisnis model dari klub sepak bola terbaik di London, yaitu Chelsea F.C. Serta belajar bagaimana bisnis mapping di sebuah restoran ternama milik Jamie Oliver. Saya juga mempelajari bisnis dalam Dunia actors dan actress. Dunia entertainment sampai bagaimana cara Bisnis bekerja bagi pemerintahan dalam sistem Kerajaan-Parlementer di Istana Buckingham Palace. Selain itu saya juga menambahkan kursus lain yang termasuk Teknik diantaranya belajar tentang pemrograman Animasi langsung dari Studio Apple Computer serta belajar Packaging Design disalah satu museum desain di Westminister. Tidak lupa saya juga belajar pemrograman serta Photography street.

Remarks

Begitu banyak yang saya dapat dalam banyak program yang berbeda. Mungkin tidak dapat semua saya ceritakan disni. Karena lebih banyak skill terapan yang lebih mudah dijelaskan langsung secara verbal dan visual dibandingkan dengan tulisan seperti artikel ini. Saya berusaha menggambarkan sebaik mungkin apa yang saya dapat dari awal. Ada beberapa hal yang mungkin terlewat dan tidak saya ceritakan karena terlalu banyak yang saya dapat. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa- mahasiswi lainnya.

 

Regards,

Cosmas Sakristiandio
Informatika (IMT) 2015

References:

[1] https://id.techinasia.com/ide-startup-menarik-startup-weekend-jakarta-2017/amp/

[2] https://www.dream.co.id/dinar/keren-startup-ini-ciptakan-aplikasi-tes-katarak-1711212.html

[3] https://indonesianext.id/